Beberapa saat sebelumnya

"Komandan Vex, saya menangkap sinyal darurat dari bangunan ini. Ada apa sebenarnya? Kenapa pasukan Anda bergerak dalam jumlah besar malam ini?" Suara itu terdengar dari langit, menggema di atas barisan prajurit Komandan Vex.

"Zephyron, kamu datang juga? Bagus. Kehadiranmu akan sangat membantu," ujar Komandan Vex dari atas Jeep tempurnya. Suaranya mantap, meski ada nada lega yang tak bisa ia sembunyikan.

Untuk menghadapi dua kultivator kuat dari dimensi lain, dia membutuhkan banyak bantuan. Pasukan khususnya hanya sedikit yang dapat dia kumpulkan dengan cepat. Sebagai komandan perang, Vex telah melewati banyak medan tempur, memimpin ribuan prajurit, dan dikenal sebagai ahli strategi terbaik. Namun, Zephyron bukan bagian dari anak buahnya, sehingga ia perlu berhati-hati dalam bekerja sama dengannya.

Zephyron adalah salah satu pasukan khusus pemerintah, terpilih sebagai satu dari sepuluh prajurit yang diberi hak menggunakan baju tempur khusus berbentuk pakaian robot. Baju ini bukan sekadar pelindung, melainkan teknologi militer tercanggih yang menyatu langsung dengan tubuh penggunanya. Saat dikenakan, pakaian tempur tersebut memperkuat kekuatan fisik Zephyron hingga ratusan kali lipat, memungkinkannya untuk terbang, bergerak dengan kecepatan tinggi, serta mengakses berbagai jenis senjata otomatis dan sistem sensorik canggih. Dengan perlengkapan ini, Zephyron bukan hanya seorang prajurit, melainkan unit tempur mandiri yang mampu menghadapi ancaman skala besar tanpa dukungan langsung dari pasukan lainnya.

Komandan Vex keluar dari mobilnya dan mendekati Zephyron yang sudah turun, menjejak tanah dengan dentuman berat.

"Ada dua orang metahuman dengan kekuatan tidak biasa sedang membuat kekacauan. Mereka sedang bergerak menuju tempat ini," ucap Vex, matanya menatap ke arah gedung di kejauhan.

Ia sengaja tidak menyebutkan apa pun tentang dimensi lain. Informasi itu terlalu berisiko jika sampai diketahui pemerintah. Rencananya bisa hancur seketika.

Zephyron melirik ke arah pasukan di belakang Vex, lalu menatap wajah sang komandan dengan penasaran.

"Bukankah banyak pasukan khusus yang biasa menangani para metahuman? Kekuatan seperti apa yang membuat Anda kerepotan?" tanyanya, nada suaranya tenang namun penuh rasa ingin tahu. Ia tahu, kota Hesperis memiliki populasi metahuman yang cukup tinggi. Tapi selama ini, di bawah kepemimpinan Komandan Vex, mereka selalu berhasil mengatasi pelanggaran yang terjadi.

"Mereka sangat kuat, juga cepat. Mereka punya kemampuan untuk terbang..." Komandan Vex menghentikan ucapannya, tiba-tiba wajahnya berubah.

"Langit. Target kita kemungkinan besar ada di langit. Kerahkan sebagian prajurit untuk memantau pergerakan di atas kita," teriaknya lantang, memberi perintah.

"Komandan Vex, untuk urusan langit, Anda bisa mempercayakannya padaku. Tidak ada siapa pun di atas sana. Selain itu, sensorku akan langsung menangkap pergerakan kalau ada yang mendekat dari udara," ujar Zephyron dengan percaya diri. Namun dalam hatinya, ia mulai penasaran. Sangat jarang ada metahuman yang bisa membuat Komandan Vex kehilangan ketenangan.

"Tapi Komandan Vex, aku menemukan anomali energi di langit saat tiba di tempat ini. Apa Anda tahu itu anomali apa?" tanyanya, kali ini dengan nada serius.

"Apa? Anomali energi?" Vex membelalakkan mata. Ia sudah melihat sendiri kemampuan Lynx dan Leena, dan mendengar sendiri cerita dari Kanaya. Kesimpulan pun muncul di benaknya.

"Semuanya. Musuh ada di sekitar sini. Serang begitu kalian melihatnya," perintahnya cepat, nadanya tajam.

Zephyron masih belum sepenuhnya memahami situasinya atau kekuatan seperti apa yang dimiliki para metahuman itu. Namun sebagai prajurit pemerintah, ia siap membantu Komandan Vex menghadapi apa pun yang akan datang.

Sementara itu di dalam markas, Lynx yang masuk ke dalam tanah dengan kemampuan elemen tanahnya menemukan lorong yang mengarah ke sebuah bangunan besar di bawah permukaan. Ukuran ruangan itu hampir sama dengan bangunan di atas tanah, luas dan mengintimidasi.

Dengan mata langitnya, Lynx memeriksa kondisi sekitar. Amarahnya tiba-tiba memuncak saat matanya menangkap sosok Lala di dalam kurungan kaca berjeruji. Ia dalam keadaan tak sadarkan diri, tanpa sehelai kain pun, tubuhnya terikat dalam posisi menyedihkan.

Lynx merasakan gelombang amarah membuncah dalam dadanya. Melihat penderitaan Lala membuat darahnya mendidih. Ia sempat hendak menembus ruangan itu dan membebaskannya seketika. Namun sebuah ide melintas di benaknya. Ia mengepalkan tangan dan bergumam pelan.

"Aku harus beri peringatan pada mereka. Mereka harus tahu akibatnya kalau berani menyentuh Lala lagi. Mereka pasti menyiksanya agar dia membocorkan rahasia ayahnya."

Tanpa ragu, Lynx mengerahkan energi sakti. Ia melapisi bangunan dengan kekuatan tanah, lalu mulai mengangkat seluruh struktur itu menuju angkasa.

Tanah di sekitar bangunan berguncang hebat saat bangunan mulai terangkat. Lynx berhati-hati. Ia tahu ada banyak prajurit di sekitar lokasi, dan ia tak ingin melukai mereka kecuali terpaksa.

"Gempa bumi?" teriak salah satu prajurit dengan panik.

"Tidak mungkin. Wilayah ini tidak pernah mengalami gempa. Pasti ada sesuatu yang terjadi," sahut yang lain, mulai panik namun tetap berada di tempat karena belum ada perintah.

Zephyron yang mengenakan pakaian robot tempurnya langsung menganalisis sumber getaran. Data yang muncul di visornya membuatnya tercengang. Ia segera menghampiri Komandan Vex dengan langkah cepat.

"Komandan, sumber getaran berasal dari sini. Dari bangunan itu," katanya tegas sambil menunjuk ke arah bangunan yang kini mulai terangkat ke langit.

Belum sempat Vex memberi perintah, bangunan tersebut sudah berada di udara. Pasukan di sekitar lokasi berhamburan menghindar karena mengira struktur itu akan runtuh. Tidak satu pun dari mereka menyangka bangunan itu benar-benar terbang ke langit.

Setibanya di udara, Lynx memusatkan pikirannya.

"Kutub. Ya, tempat itu cukup terpencil dan dingin. Tempat yang cocok untuk membalas perlakuan mereka... dan memberi peringatan yang tak akan mereka lupakan."

Tanpa menunggu lebih lama, Lynx segera terbang menuju kutub sambil membawa bangunan besar beserta tanah yang melingkupinya, mengangkat seluruh bagian atas dan bawah markas secara bersamaan.

Beberapa saat kemudian, gemuruh perlahan mereda. Di hadapan Komandan Vex, tanah yang tadinya menopang markas mereka kini berubah menjadi lubang menganga, dalam dan gelap. Bangunan bawah tanah yang sebelumnya tersembunyi kini telah lenyap. Pasukan yang tersisa hanya bisa menatap langit dengan wajah pucat dan mata terbuka lebar, tak percaya pada apa yang baru saja mereka saksikan.

"A-apa yang barusan terjadi...?" bisik seorang prajurit, suaranya nyaris tak terdengar.

Komandan Vex berdiri kaku. Rahangnya mengeras, dan tangannya mengepal begitu kuat hingga buku-bukunya memutih. Tatapannya menusuk ke langit kosong.

"Markas kita... menghilang?!" raungnya dengan suara serak dan penuh amarah. "Apa yang sebenarnya sedang terjadi di sini?!"

"Komandan Vex, aku akan segera mengejarnya." Zephyron langsung melesat ke langit tanpa menunggu jawaban. Tubuhnya diselimuti kilatan cahaya dari mesin baju tempurnya. Ia mengaktifkan koneksi ke satelit pengintai untuk melacak arah bangunan yang terbang tadi.

"Bagaimana mungkin bangunan sebesar itu bisa melaju secepat ini... Aku bahkan nyaris tak mampu menyusulnya," gumamnya dalam hati. Ia menambah kecepatan, menembus awan dengan ledakan suara yang menggetarkan langit malam. Data dari satelit mulai masuk, menunjukkan arah jelas bangunan tersebut melaju.

Sementara itu, di darat, Komandan Vex menggertakkan giginya. Amarah membakar dadanya.

"Bawa ke sini pesawat The Hunter. Sekarang juga!" teriaknya ke alat komunikasinya.

"Lynx... Aku tidak menduga hasil penelitian profesor Milo bisa menciptakan manusia sekuat itu. Jika aku berhasil menciptakan pil itu kembali, pasukan superku tidak akan ada lawannya dan aku akan bisa menguasai dunia ini." Batinnya.

"Aku harus segera mengejarnya. Aku tidak bisa membiarkan semua proyek rahasiaku dihancurkan atau ketahuan oleh Zephyron. " Pikirnya.

Komandan Vex merasa sangat marah, dia tak bisa membiarkan bangunan itu lolos. Di dalamnya ada banyak proyek rahasia yang sedang ia bangun untuk menguasai dunia. Di sana ada hasil penelitian Profesor Milo yang susah payah dia dapatkan. Dan penelitian tersebut sedang di bangun ulang oleh dokter Zhang bersama para ahli lainnya yang juga sedang berada didalam bangunan tersebut. Dan sekarang, semua itu berada di tangan musuh.

Begitu pesawat tiba, "Komandan Vex beserta para pasukan terkuatnya mengikuti dan terbang menyusul Zephyron.

